Ada apa dengannya, padahal setiap hari dia mengisi acara-acara keagamaan di mesjid, begitu santun pada orang-orang dan begitu patuh kepada kedua orang tuanya, bahkan terhadap akupun hampir semua kewajibannya telah dia tunaikan dengan hikmah, tidak pernah sekalipun dia mengasari aku, berkata-kata keras padaku, bahkan Kak Arfan terlalu lembut bagiku, tapi satu yang belum dia tunaikan yaitu nafkah bathinku,
Aku sendiri saat mendapat perlakua darinya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintaku padanya dan membuatku perlahan-lahan melupakan masa laluku bersama Boby.
Aku bahkan mulai merindukannya tak kala dia sedang tidak di rumah, aku bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkan lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni memakai busana muslimah yang syar'i
Memang 2 hari setelah pernikahan kami, Kak Arfan memberiku hadiah yang diisi dalam kartu besar, semula aku mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga, tapi setelah kubuka, ternyata isinya 5 potong jubah panjang berwarna gelap, 5 jilbab panjang sampai selutut juga berwarna gelap, 5 kaos kaki tebal panjang berwarna hitam dan 5 pasang manset berwarna gelap pula, jujur saat membukanya aku sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayangku bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seorang ustadz.
Aku mengira bahwa dia akan memaksa aku untuk menggunakannya, ternyata dugaanku salah sama sekali, sebab hadiah itu tidak pernah disentuhnya atau ditanyainya, dan kini aku mulai menggunakannya tanp paksaan siapapun, kukenakan busana itu agar dia tahu bahwa aku mulai menganggpnya istimewa, bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengaji sudah mulai aku ikuti
Kadang ceramah-ceramah di mesjid sering aku ikuti dan aku ikuti dan aku praktekkan di rumah, tapi satu yang belum bisa aku mengerti darinya, entah mengapa hingga 6 bulan pernikahan kami dia tidak pernah menyentuhku, setiap masuk kamar pasti sebelum tidur dia selalu mengawali dengan mengaji lalu tidur di atas hamparan permadani di bawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam dan melaksanakan sholat tahajud.
Hingga suatu saat Kak Arfan jatuh sakit, tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi, aku sendiri bingung bagaimana cara menanganinya, sebab Kak Arfan sendiri tidak pernah menyentuhku, aku khawatir dia akan menolak aku bila aku menawarkan jasa membantunya,
Ya Allah.. Apa yang harus akun lakukan saat ini, aku ingin sekali meringkan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah...
Malam itu aku tidur dalam kegelisahan, aku tidak bisa tidur, mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak, ku dengar Kak Arfan pun sering mengiggau kecil, mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau, sementara malam begitu dingin disertai hujan yang sangat deras dan angin yang bertiup kencang....
Kasihan Kak Arfan, pasti dia sangat kedinginan saat ini, perlahan aku bangung dari pembaringan dan menatapnya yang sedang tertidur pulas, kupasangkan selimutnya yang sudah mejulur ke kakinya, ingin sekali aku merebahkan diriku disampingnya atau sekedar mengompresnya, tapi aku tak tahu bagaimana harus memulainya,
Hingga akhirnya aku tak kuasa menahan keinginan hatiku untuk mendekatkan tanganku didahinya untuk meraba suhu panas tubuhnya, tapi baru beberapa detik tanganku menyentuh kulit dahina, Kak Arfan terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar.
"Afwan de, kau belum tidur?. Kenapa ada di bawah?. Nanti kau kedinginan?. Ayo naik lagi keranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit!". Pina Kak Arfan padaku.
Hatiku miris saat mendengar semua itu, dadaku sesak, mengapa Kak Arfan selalu dingin padaku, apakah dia menganggap aku orang lain, apa dihatinya tak ada cinta sama sekali untuk aku, tanpa kusadari air mataku menetes sambil menahan isak yang ingin sekali kuluapkan dengan teriakan, hingga akhirnya gemuruh hatiku tak bisa ku bendung juga.
"Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dngin?".
"Kau bahkan tak pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku?."
'Bukankah aku ini istrimu?. Bukankah aku telah halal buatmu?"
"Lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu?"
"Apa artinya diriku bagimu, Kak?". "Apa artinya diriku bagimu, kak?"
"Kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahi aku?"
"Mengapa kak?. Mengapa?". Ujarku disela isak tangis yang tak bisa kutahan.
Tak ada reaksi apapun dari Kak Arfan menanggapi galaunya hatiku dalam tangis yang tersedu itu, yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirih jam yang menempel di dinding kamar kami, hingga akhirnya dia mendekatiku dan perlahan berujar padaku.
"Dek.. jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu, karena sesungguhnya kakak begitu mencintamu, tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri, apa saat ini telah ada cinta dihatimu untuk kakak?"
"Kakak tahu, dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kakak selama ini begitu dingin padamu, sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakak kabarkan padamu malam ini, kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini...?". Ujar Kak Arfan dengan agak sedikit gugup.
"Iya tolong jelaskan pada saya kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini pada saya?". Tolong jelaskan, Kak?" Ujarku menimpali tuturnya Kak Arfan
"hhhhhmmmmm, dek kau tahun apa itu pelacur?. dan apa pekerjaan seorang pelacur?"
Afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pelacur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peuli apakah dihatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak, bahkan seorang pelacur terkadang harus meneteskan air mata kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangann dari pada yang sedang terjadi saat itu, dan kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu, dek"
"Kamu istriku, dek. Betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksa saat malam pertama pernikahan kita sedangkan dihatimu tak ada cinta sama sekali buat kakak, alangkah berdosanya kakak bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak, tetapi ada lelaki lain".
"Kau tahu, dek. sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan bapakmu, tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu, kakak melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu, Boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya, saat itu kakak merasa bahwa kakak telah merampas kebahagianmu dan kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa",
"Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan, bahwa begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak, lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu, sementara tanpa memperdulikan perasaanmu kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama sementara kau sendri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak?"
"Kau istriku, dek, sekali lagi kau istriku, dek, kau tahu...."
"Kakak begitu sangat mencintamu dan kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak, agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu, agar kau bsa menikmati ap yang kita lakukan bersama".
"Dan Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kakak, dan kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu, beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar'i
"Pinta kakak padamu, dek. luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata, maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah Ta'alaa selanjutnya untuk kakak...."
Mendengar semua itu aku mememluk suamiku, aku merasa bahwa dia adalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai selama hidupku, aku bahkan telah melupakan Boby, aku merasa bahwa malam itu aku adalah wanita yang paling bahagia di duni, sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak Arfan mendatangiku sebagai seorang suami,
Hari-hari kami lalui dengan bahagia, Kak ARfan begitu kharismatik, terkadang dia seperti seorang kakak buatku, terkadang seperti orang tua, darinya aku belajar banyak hal, perlahan aku mulai meluruskan niatku, dengang menggunakan busana syari semata karena Allah dan untuk menyenangkan hati suamiku
Sebulan setelah malam itu, dalam rahimku telah tumbuh benih-benih cinta kami berdua, Alhamdulillah, aku sangat bahagia bersuamikan dia, darinya aku belajar banyak tentang agama, aku menjadi mutarobbinya, ari demi hari kami lalui dengan kebahagiaan, ternyata dia mencintaiku lebih dari apa yang aku bayangkan dan dulu aku hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangan dia.
Aku pikir kebahagian itu akan berlangsung lama diantara kami, setelah lahir Abdurrahman, hasil cinta kami berdua, diakhir tahun 2008 Kak Arfan mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang, sebab Kak Arfan meninggal dunia sehari setelah kecelakaan teresebut, aku sangat kehilangannya, aku seperti kehilangan penopang hidupku, aku kehilangan kekasihku, aku kehilangan murobbiku, aku kehilangan suamiku.
Tidak pernah terbayang olehku bahwa kebahagiaan bersamanya begitu singkat, yang tidak pernah aku lupakan diakhir kehidupannya Kak Arfan, dia masih sempat menasehatiku sesuatu padaku
"Dek..., pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan, kalau teranyata kita berpisah besok atau lusa, kak minta padamu dek...,
Jaga Abdurrahman dengan baik, jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat, didik dia dengan baik dek, jangan sia-saiakan dia,
Satu lagi permintaan kakak...,
Kalau suatu saatu ada laki-laki yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanyak mencintaimu, tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita,
Dan maafkan kakak dek, bila selama bersamamu, ada yang kurang yang kakak perbuat untukmu
Senantiasa berdoa..., kalau kita berpisah di dunia ini.. Insha Alloh kita akan berjumpa kembali di Akhirat kelak....
Kalau Allah menakdirkan kakak yang pergi lebih dahulu meninggalkan dirimu, Insha Allah kakak akan senantiasa menantimu"
Demikian pesan terakhir Kak Arfan sebelum keesokan harinya Kak Arfan meninggalkan dunia ini, hatiku sedih saat itu...
Aku merasa sangat kehilangan tetapi aku berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga Abdurrahman dengan baik....
Selamat jalan Kak Arfan... Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku. Amiin
Sumber: https://aslibumiayu.net/9353-kisah-nyata-seorang-wanita-yang-menikah-bukan-karena-cinta-diawalnya.html
Sumber: https://aslibumiayu.net/9353-kisah-nyata-seorang-wanita-yang-menikah-bukan-karena-cinta-diawalnya.html
